15 September, 2009

Rethinking BSC, Abstraksi (tulisan satu)

Well, akhirnya dengan sedikit "terpaksa" saya mulai juga menulis materi yang sedikit agak serius. Kenapa "terpaksa"? bukan karena saya tidak tertarik dengan materi yang serius, khususnya yang akan saya tulis ini melainkan karena saya belajar dari pengalaman ketika wawancara untuk mendapatkan beasiswa JICA ini, saya harus akui bahwa essay saya adalah essay yang 'pincang', karena walaupun didasarkan pada data yang valid, tapi sangat tidak didukung teori yang ilmiah, sehingga dengan mudah pihak pewawancara menemukan kepincangannya. Mungkin kalau ada kesempatan akan saya ceritakan lebih detil sebagai tips bagi teman-teman lain yang berniat ambil beasiswa juga.

Berkah dari pengalaman tersebut, saya semakin serius mendalami tentang apa yang menjadi kelemahan essay saya tersebut tanpa harus merubah ketertarikan saya sejak awal di bidang pengukuran kinerja dalam proses pembenahan DJP yang berkesinambungan. Bermuaralah pencarian saya pada teori Balanced scorecard yang tidak lama setelah itu diadopsi secara resmi oleh DJP dalam rencana strategisnya.

Sebagai sebuah teori, tidak ada yang sempurna. Namun sebagai janji saya terhadap diri saya sendiri maupun beberapa kawan seperjuangan, saya tidak akan mendudukkan diri sebagai seorang "arsitek tambal sulam". Organisasi ini sudah terlalu lelah dengan eksperimen teori-teori canggih. Terlalu lelah bagi level kami-kami ini untuk senantiasa berubah haluan setiap kali diuji cobakan sistem dan teori manajemen yang baru di institusi ini. Kalaupun artikel-artikel ini terbaca sebagai 'kritikan' terhadap teori dasar yang saat ini sedang diadopsi DJP, maka semata-mata adalah untuk menjadi pelecut semangat saya selama 2 tahun ini dalam mencarikan solusi untuk setidaknya menjawab kritik2 yang memang sudah berkembang.

Adalah sebuah buku yang tidak terlalu tebal, berisikan kritik terhadap teori Balanced Scorecard yang mengilhami saya untuk mengambil subjek pengukuran kinerja sebagai rencana thesis. Buku ini berjudul "Rethinking Performance Measurements - Beyond the BSC" ditulis oleh Marshall W Meyer seorang Profesor Manajemen dan Sosiologi di Wharton School Universitas Pennsylvania. Tapi untuk jurnal pertama ini kita belum akan membahas buku ini. Kita akan mulai dengan sebuah artikel singkat yang mengidentifikasi beberapa kesalahan dalam penerapan BSC yang bisa berakibat tidak tercapainya tujuan dari diberlakukannya BSC.

Pada prinsipnya pengukuran finansial dalam perusahaan komersial (BSC pada awalnya dirancang untuk mengukur entitas komersial) adalah keniscayaan. Baik dinyatakan dalam satuan absolut 'tingkat penjualan', 'tingkat profit' atau satuan lainnya. Yang terlewatkan menurut  teori BSC adalah pengukuran non financial atau kinerja yang tidak dicerminkan dalam Laporan Keuangan seperti 'tingkat kepuasan pelanggan', 'tingkat efisiensi pegawai', 'tingkat efektifitas kebijakan strategis', 'tingkat soft skill pegawai' dan lain sebagainya. Dari sinilah BSC mencoba mengoreksi teori-teori pengukuran kinerja yang hanya terfokus pada pengukuran finansial (kita sebut saja, casual performance measurements - CPM).

 Selain sifat pengukuran yang lebih komperhensif, koreksi lain dari teori BSC terhadap CPM adalah bahwa CPM mengabaikan adanya potensi pertumbukan yang sebenarnya bisa diukur untuk dicapai pada masa yang akan datang. Sedangkan CPM hanya dapat dipakai untuk mengukur kinarja yang sudah terjadi saja. Jadi untuk mempermudah dalam mengidentifikasi keistimewaan BSC dibandingkan CPM kita cukupkan pada 2 koreksi di atas saja dulu:  

  1. Sifat pengukuran yang bersifat lebih komperhensif.
  2. Sifat pengukuran yang berorientasi kedepan.
Adalah Harvard Business Review, salah satu pusat jurnal dan bulettin yang memiliki andil cukup besar dalam 'mempromosikan' BSC. Dari sini pula saya akan coba sebutkan kritikan yang secara umum sering dilakukan sehingga BSC kehilangan maknanya sehingga tidak akan pernah dicapai 2 poin keistimewaan BSC manakala dibandingkan dengan CPM.  

  • Kesalahan pertama: Tidak terapai kausalitas/hubungan antara pengukuran dengan strategi.
  • Kesalahan kedua : Tidak pernah mengupdate asumsi hubungan antara keempat aspek yang diukur (Finansial, efektifitas/efisiensi, kepuasan stakeholders dan pengembangan SDM).
  • Kesalahan ketiga : Menetapkan target performa yang tidak tepat.
  • Kesalahan keempat : Tidak mengukur dengan cara pengukuran yang tepat.
Pada tulisan bagian kedua, saya akan menguraikan mengenai keempat kesalahan di atas, dan supaya tulisan ini lebih "membumi", kita coba menjadikan renstra DJP yang berorientasi pada BSC sebagai objek identifikasi, apakah ada indikasi terjadinya keempat kesalahan di atas ataukah tidak.

0 komentar:

Posting Komentar