Maaf kalo judulnya terlalu eye catching. Setelah beberapa saat disibukkan dengan tugas-tugas report, mid term dan quiz2 yang lumayan menyita konsentrasi, rasanya belum saatnya langsung masuk gigi lima dan nulis yang serius-serius. Sekedar pemanasan di edisi liburan akhir tahun, saya cuma mau sharing ekspresi ketidaksabaran saya menunggu liburan 'yang sesunguhnya' di bulan feburari nanti.
Kenapa judul posting ini the lost decade? Pertama karena tema ini yang menjadi akhir lecture saya di kelas Corporate and Business Strategy tadi sore. Cerita tentang bubble economy, bubble burst bla...bla..bla sampai ke perilaku japanese companies yang abai dengan cash flow projection, profit orientation, dan lain sebagainya. Kedua, rasa lega yang tidak bisa ditutupi setelah dua bulan terakhir ini hampir semua lecture mulai masuk kecepatan tinggi. Penat...
Apa hubungannya? well lumayan jauh sih. Gini, saya coba petakan. Liburan yang cuma 2 minggu ini bukan libur yang sesungguhnya karena ibarat orang berlari maraton ini cuma sekedar tarik nafas untuk kemudian sedikit fresh menghadapi final tests di akhir Januari nanti. Tetap saja 'liburan bo'ongan' ini terasa seperti bonus akhir tahun, mengingat penatnya aktivitas perkuliahan. Euphoria yang saya rasakan saat ini saya coba kondisikan dengan konteks waktu 2 bulan ke depan. Februari 2010 adalah masa liburan panjang, masanya kembali ke kehangatan pelukan keluarga tercinta, bercengkerama dengan bisingnya suara alto kedua putri yang sejak lama saya rindukan, ronda setengah malam di garasi menunggui pompa air yang seringkali kempos karena kekurangan air untuk disedot dan sebagainya.
Bukan main,... 4 bulan sudah rutinitas itu hilang dari kehidupan saya. dan ini belum lagi seperempat jalan petualangan panjang saya di Jepang yang dingin ini. Masih sangat panjang waktu saya untuk terpisahkan dari rutinitas yang menjadi bagian hidup saya. 2 tahun!!! Rasanya seperti tidur panjang dan kemudian bangun dengan kondisi bayi anda yang tadinya baru 2 bulan ternyata sudah pandai mengoceh. Seperti memori anda dicabut dan dikembalikan dalam keadaan anak tertua yang tadinya baru di kelas 2 SD saat ini sudah duduk di kelas 4.
Ada yang hilang... 2 tahun kehidupan saya hilang. 2 tahun seorang istri yang setia kehilangan suaminya yang biasanya rutin memberikan layanan antar jemput. 2 tahun 2 orang anak gadis saya harus hidup tanpa kehadiran ayahnya. 2 tahun mertua saya tidak punya tenaga ahli spesialis genteng bocor, pompa air kempos, dan listrik yang kelebihan beban. Bukan lost decade memang... tapi semangatnya mirip-mirip lah.
Akhir dari tulisan ini, ada hikmah yang sangat berharga. Ada ungkapan yang menyatakan "sometime you're not aware how precious someone is until you lost her". Saya cukup beruntung tidak harus mengalami itu, karena masa kehilangan ini bukan permanen... 'hanya' dua tahun. Tapi saya mendapatkan value yang sama dari ungkapan tersebut. Setiap hari yang saya lewati di sini semakin membuat saya merasa betapa berharganya kehidupan yang saya tinggalkan dan betapa saya mencintai orang-orang yang senantiasa hadir di dalamnya.
Tokyo, 22 Desember 2009
0 komentar:
Posting Komentar