Sedari kecil dah terbiasa kita dengan istilah 'perawan di sarang penyamun'. Nah, seiring dengan menurunnya sikap khidmat kita terhadap 'masa lalu' istilah semacam itu biasa dimodif dan disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Muncullah istilah tandingan 'Penyamun di sarang perawan'. Sejatinya aku mau pake istilah itu untuk menggambarkan kesendirian seorang lelaki di tengah-tengah 4 orang wanita di sekelilingku. Ibu mertua, istriku dan dua puteriku....
Icha in action
It feels good to be the most handsome one in the house. Cuma repotnya kyk skarang ini, saat mesti ambil keputusan meninggalkan rumah dalam waktu yang lumayan lama. Rasanya pegeeel banget, mestinya 2 tahun ini jadi momen once in the life time buatku, tapi gak bakalan mungkin saya bisa enjoy sepenuhnya. Inget ciri khas kolokannya kedua 'malaikatku', yang satu ngerengek "mbaaaah......." yang satu lagi "oek....ooek....oeeeeekh...". Suara-suara itu pasti bakalan terngiang-ngiang terus di telinga si penyamun ini di masa-masa pertapaannya di Jepang nanti. Even the best technology ever made gak bakalan bisa menggantikan absennya si penyamun ini di tengah suara 'perawan-perawan' itu.
May الله give me enough time for me to make a payback for y'all in the future, being the best dad y'all ever had.
0 komentar:
Posting Komentar